21.9.12

Pelayanan Prima PT Kereta Api Indonesia (Tugas Kuliah)

Mungkin anda sudah menyadari bahwa ada perubahan logo PT Kereta Api Indonesia yang terpampang di stasiun-stasiun. Perubahan itu sebenarnya memiliki filosofi dan niat yang amat mulia, transformasi transportasi. Bukan membesar-besarkan, namun transformasi PT KAI sudah mempengaruhi juga transformasi hidup banyak orang.

perubahan logo kereta api



"Logo dan lagu itu hanyalah simbol, yang terpenting dari itu adalah peningkatan pelayanan pada pelanggan dan masyarakat. Kita harus bisa mengedepankan keselamatan, pelayanan, dan inovasi yang tiada henti."
- Ignatius Jonan (Dirut PT KAI)




Menilik ungkapan Pak Jonan di atas, peningkatan pelayanan pada pelanggan dan masyarakatlah yang terpenting. Lega akhirnya setelah bertahun-tahun, tuan-yang-duduk-di-sana mengerti bagaimana penderitaan kami-yang-duduk-di-kursi-ekonomi-tuan. Tak apalah saya melupakan masa lalu kelam bersama kereta api, karena PT KAI kini sudah memiliki pelayanan prima yang minimal tidak merepotkan anak-cucu saya kelak.

Pelayanan prima menurut kereta-api.co.id adalah memberikan pelayanan yang terbaik yang sesuai dengan standar mutu yang memuaskan dan sesuai harapan atau melebihi harapan pelanggan dengan memenuhi 6 A unsur pokok:
  • Ability (Kemampuan)
  • Attitude (Sikap)
  • Appearance (Penampilan)
  • Attention (Perhatian)
  • Action (Tindakan)
  • dan Accountability (Tanggung jawab).
Terlihat indah bukan? Apalagi jika anda sudah mengetahui atau bahkan merasakan naik kereta api ekonomi jarak jauh sebelum tahun 2011. Mengapa selalu kereta ekonomi? Bukankah ada kereta bisnis dan eksekutif?
Sebagai transportasi rakyat, kereta ekonomi sangat murah sekali dibandingkan kereta bisnis yang mencapai 4 kali lipat atau eksekutif yang bisa 10 kali lipat. Jadi saya di sini mengesampingkan harga tiket, karena pelayanan prima yang menyangkut keselamatan adalah hak semua orang. Menurut saya kereta yang paling tidak manusiawi dulunya adalah kereta api ekonomi jarak jauh (jkt-sby pp) gaya baru malam, kertajaya, (jkt-mlg pp) matarmaja, dan (jgj-bwi pp) sri tanjung. Keempat kereta ini adalah kereta lintas provinsi di Jawa yang biasa menempuh lebih dari 12 jam perjalanan.

Walau perantau pemula, saya sudah mencoba semua kereta di atas. Dulu semuanya susah, semuanya. Diawali dengan berebut tiket-tempat-duduk di stasiun dengan puluhan calo dan calon pembeli yang tumpah di depan loket. Hingga berebut masuk gerbong bak pemain rugby. Tiket tempat duduk itu seperti kursi VIP di dalam kereta. Kalau menurut estimasi saya, hanya ada sekitar 25-40% tiket tempat duduk dibanding semua tiket yang dijual PT KAI. Sisanya berdiri, lesehan dan gelantungan. Walaupun memperoleh tempat duduk, tetap saja suasana yang amat penat, berdesakan, dan tatapan tajam orang-orang tanpa-tempat-duduk membayangi sepanjang perjalanan. Jangan bayangkan sudah bagaimana orang-orang tanpa-tempat-duduk itu berdiri di sela-sela, di bawah kursi, di kamar mandi, bahkan tidur di pintu kereta. Tak hanya itu, pedagang asongan dan preman-preman kereta (termasuk copet, pengamen, dan pengemis) yang juga punya mata pencaharian terpaksa adu badan hingga menginjak-injak (dalam artian sebenarnya) para penumpang yang tidak kebagian kursi. Semua itu telah menjadi budaya dalam kereta ekonomi dan hampir setiap hari itu terjadi.

Dulu saya kira akan sulit merubah semua kebudayaan buruk tersebut, apalagi konon PT KAI selalu merugi. Namun ternyata semuanya berubah 180 derajat. Berbagai kebijakan baru muncul dan sempat menjadi kontroversi akibat ditentang kalangan pelestari budaya buruk di kereta. Saya acungkan jempol besar ibu saya untuk salah satu kebijakan baru PT KAI, yaitu pembatasan tiket. Semua orang dapat duduk dan semua orang membayar karena kini tiap stasiun sudah online dan terhubung satu sama lain. Hebatnya lagi dengan penggunaan KTP untuk pemesanan, semua calo jadi tak berkutik. Terakhir naik kereta api, saya melihat ada petugas pengamanan di tiap gerbong yang pastinya membuat preman-preman kereta ciut. Pemesanan tiket juga mudah dan makin terjangkau, hingga minimarket samping kos saya juga jual tiket kereta api. Pelayanan PT KAI pada pelanggannya sedikit demi sedikit sudah memenuhi prinsip 6A-nya.

Mungkin satu-satunya kesulitan kini adalah sulitnya mencari tiket mendadak karena kita diharuskan merencanakan kepergian sedari awal ketika pemesanan tiket baru awal dibuka dan belum habis. Diluar itu, seiring dengan perubahan logonya yang makin cerah dan menarik, petugas-petugasnya kini makin rapi, ramah, cantik dan ganteng. Rupanya industri transportasi perkereta-apian yang dimonopoli PT KAI sudah berbenah dan berupaya memberikan pelayanan prima pada masyarakat.

1.3.12

Bahasa Osing


Bahasa Osing adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa (Jawa Timur). Kata Osing berasal dari kata tusing dalam bahasa Bali, yang berarti tidak.

Penduduk asli Banyuwangi biasa disebut Lare Using atau Wong Osing. Penutur Bahasa Jawa-Osing ini tersebar terutama di wilayah tengah Kabupaten Banyuwangi, terutama kecamatan-kecamatan: Banyuwangi, Kabat, Rogojampi, Glagah, Kalipuro, Srono, Cluring, Giri, Gambiran, Singojuruh, Genteng, Licin.

Sedangkan wilayah lainnya adalah wilayah tutur campuran baik Bahasa Jawa ataupun Bahasa Madura. Selain di Banyuwangi, penutur bahasa ini juga dapat dijumpai di wilayah kabupaten Jember, terutama di Dusun Krajan Timur, Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, Jember. Namun dialek Osing di wilayah Jember ini telah banyak terpengaruh bahasa Jawa dan Madura disamping dikarenakan keterisolasiannya dari daerah Osing di Banyuwangi.

Yang paling mecolok dari bahasa Osing adalah pengucapannya. Pada akhiran kalimat, huruf hidup akan terbaca seperti ini:
(u) menjadi (au)
(i) menjadi (ai)

contoh kata:
biru terbaca (birAu)
gedhigi terbaca (gedhigAi) = begini

Sedangkan huruf bA, gA, dA, nA, mA ada penambahan ya :
(bA) jadi (byA) = embah terbaca embyah
(gA) jadi (gyA) = gadung terbaca gyadung
(dA) jadi (dyA) = dedari terbaca dedyari

Kalimat :
Banyuwangi terlafal (ByAnyuwangAi)
Kembang gadhung terbaca (kembyAng gyAdong)
Dayuh terbaca (DyAyoh)
Omah terbaca (UmyAh)
Uwak terbaca (uyyA')
Nonah terbaca (nonyAh)
Embah terbaca (embyAh)


Selain itu, ada ciri khas lainnya dari bahasa atawa dialek Osing ini yang aneh...untuk kata "tidak" mereka menggunakan kata sing dan selain itu bahasa Osing juga banyak terpengaruh bahasa sekitarnya, seperti misalnya Bahasa Bali atau kawi :
bojog : monyet
Jerangkong : Setan
siro : sama dengan di Cirebon dan Indramayu yang berarti kamu
isun : aku, dan masuk bahasa Kasar
ring, nong : di
nono : tidak ada
sawi : singkong. Hati-hati kalau beli sawi di Banyuwangi, nanti dikasih singkong
sawen: sawi
Klendhi kabare? (terbaca : Klendhi kabyare?) : Apa kabar?
Gelang alit (gelyang alit) : cincin
Uwak adhon (uyyak adhon) : Bibi, Bhulik
Ono paran? : Ada apa?, kata Paran di Banyuwangi artinya "apa"
Gedhigi (baca: gedigAi) : begini
Gedhigu (baca : gedigAu) : begitu


Kosakata berakar bahasa Inggris juga masuk dalam daftar kamus dialek Banyuwangi, karena pada masa silam banyak Tuan Tanah Inggris, khususnya di Glenmore dan Kalibaru yang akhirnya turut mempengaruhi kosakata setempat, nih contohnya :
sulung (dari frasa so long) : duluan
nagud (dari frasa no good) : jelek

1.2.12

cita-cita

Cita-cita adalah sebuah kata benda tak berwujud yang ingin kita wujudkan di masa depan. Tidak ada standar baku mengenai jenis dan bentuk cita-cita. Dan juga tidak ada kewajiban resmi tertulis yang menuntut kita harus bercita-cita. Cita-cita itu timbul dari dalam hati, dan tidak bisa dipaksakan. Cita-cita boleh kita ganti sesuka hati berjuta-juta kali. Karena hidup hanya sekali, terkadang terlalu sayang bagi kita untuk memiliki hanya satu cita-cita dan satu tujuan. Cita-citaku pun berganti-ganti: pilot, wartawan, koki, ustadz, guru bhs.inggris, ilmuwan, hingga menteri keuangan. Entah mengapa kini ada sedikit keinginan untuk menjadi petani yang hidup damai di kampung halaman,  punya istri idaman yang setia mengantar makan siang di sawah, dan anak-anak yang mau disuruh mencangkul. bukankah itu indah. 

catatan: hahaha sepertinya aku sudah keterlaluan malasnya. demi untuk tidak mempelajari buku dan slide perkuliahan, sampai rela tidak ingin menjadi menteri keuangan. yang benar saja.