![]() |
| perubahan logo kereta api |
"Logo dan lagu itu hanyalah simbol, yang terpenting dari itu adalah peningkatan pelayanan pada pelanggan dan masyarakat. Kita harus bisa mengedepankan keselamatan, pelayanan, dan inovasi yang tiada henti."
- Ignatius Jonan (Dirut PT KAI)
Menilik ungkapan Pak Jonan di atas, peningkatan pelayanan pada pelanggan dan masyarakatlah yang terpenting. Lega akhirnya setelah bertahun-tahun, tuan-yang-duduk-di-sana mengerti bagaimana penderitaan kami-yang-duduk-di-kursi-ekonomi-tuan. Tak apalah saya melupakan masa lalu kelam bersama kereta api, karena PT KAI kini sudah memiliki pelayanan prima yang minimal tidak merepotkan anak-cucu saya kelak.
Pelayanan prima menurut kereta-api.co.id adalah memberikan pelayanan yang terbaik yang sesuai dengan standar mutu yang memuaskan dan sesuai harapan atau melebihi harapan pelanggan dengan memenuhi 6 A unsur pokok:
- Ability (Kemampuan)
- Attitude (Sikap)
- Appearance (Penampilan)
- Attention (Perhatian)
- Action (Tindakan)
- dan Accountability (Tanggung jawab).
Terlihat indah bukan? Apalagi jika anda sudah mengetahui atau bahkan merasakan naik kereta api ekonomi jarak jauh sebelum tahun 2011. Mengapa selalu kereta ekonomi? Bukankah ada kereta bisnis dan eksekutif?
Sebagai transportasi rakyat, kereta ekonomi sangat murah sekali dibandingkan kereta bisnis yang mencapai 4 kali lipat atau eksekutif yang bisa 10 kali lipat. Jadi saya di sini mengesampingkan harga tiket, karena pelayanan prima yang menyangkut keselamatan adalah hak semua orang. Menurut saya kereta yang paling tidak manusiawi dulunya adalah kereta api ekonomi jarak jauh (jkt-sby pp) gaya baru malam, kertajaya, (jkt-mlg pp) matarmaja, dan (jgj-bwi pp) sri tanjung. Keempat kereta ini adalah kereta lintas provinsi di Jawa yang biasa menempuh lebih dari 12 jam perjalanan.
Walau perantau pemula, saya sudah mencoba semua kereta di atas. Dulu semuanya susah, semuanya. Diawali dengan berebut tiket-tempat-duduk di stasiun dengan puluhan calo dan calon pembeli yang tumpah di depan loket. Hingga berebut masuk gerbong bak pemain rugby. Tiket tempat duduk itu seperti kursi VIP di dalam kereta. Kalau menurut estimasi saya, hanya ada sekitar 25-40% tiket tempat duduk dibanding semua tiket yang dijual PT KAI. Sisanya berdiri, lesehan dan gelantungan. Walaupun memperoleh tempat duduk, tetap saja suasana yang amat penat, berdesakan, dan tatapan tajam orang-orang tanpa-tempat-duduk membayangi sepanjang perjalanan. Jangan bayangkan sudah bagaimana orang-orang tanpa-tempat-duduk itu berdiri di sela-sela, di bawah kursi, di kamar mandi, bahkan tidur di pintu kereta. Tak hanya itu, pedagang asongan dan preman-preman kereta (termasuk copet, pengamen, dan pengemis) yang juga punya mata pencaharian terpaksa adu badan hingga menginjak-injak (dalam artian sebenarnya) para penumpang yang tidak kebagian kursi. Semua itu telah menjadi budaya dalam kereta ekonomi dan hampir setiap hari itu terjadi.
Dulu saya kira akan sulit merubah semua kebudayaan buruk tersebut, apalagi konon PT KAI selalu merugi. Namun ternyata semuanya berubah 180 derajat. Berbagai kebijakan baru muncul dan sempat menjadi kontroversi akibat ditentang kalangan pelestari budaya buruk di kereta. Saya acungkan jempol besar ibu saya untuk salah satu kebijakan baru PT KAI, yaitu pembatasan tiket. Semua orang dapat duduk dan semua orang membayar karena kini tiap stasiun sudah online dan terhubung satu sama lain. Hebatnya lagi dengan penggunaan KTP untuk pemesanan, semua calo jadi tak berkutik. Terakhir naik kereta api, saya melihat ada petugas pengamanan di tiap gerbong yang pastinya membuat preman-preman kereta ciut. Pemesanan tiket juga mudah dan makin terjangkau, hingga minimarket samping kos saya juga jual tiket kereta api. Pelayanan PT KAI pada pelanggannya sedikit demi sedikit sudah memenuhi prinsip 6A-nya.
Mungkin satu-satunya kesulitan kini adalah sulitnya mencari tiket mendadak karena kita diharuskan merencanakan kepergian sedari awal ketika pemesanan tiket baru awal dibuka dan belum habis. Diluar itu, seiring dengan perubahan logonya yang makin cerah dan menarik, petugas-petugasnya kini makin rapi, ramah, cantik dan ganteng. Rupanya industri transportasi perkereta-apian yang dimonopoli PT KAI sudah berbenah dan berupaya memberikan pelayanan prima pada masyarakat.
Sebagai transportasi rakyat, kereta ekonomi sangat murah sekali dibandingkan kereta bisnis yang mencapai 4 kali lipat atau eksekutif yang bisa 10 kali lipat. Jadi saya di sini mengesampingkan harga tiket, karena pelayanan prima yang menyangkut keselamatan adalah hak semua orang. Menurut saya kereta yang paling tidak manusiawi dulunya adalah kereta api ekonomi jarak jauh (jkt-sby pp) gaya baru malam, kertajaya, (jkt-mlg pp) matarmaja, dan (jgj-bwi pp) sri tanjung. Keempat kereta ini adalah kereta lintas provinsi di Jawa yang biasa menempuh lebih dari 12 jam perjalanan.
Walau perantau pemula, saya sudah mencoba semua kereta di atas. Dulu semuanya susah, semuanya. Diawali dengan berebut tiket-tempat-duduk di stasiun dengan puluhan calo dan calon pembeli yang tumpah di depan loket. Hingga berebut masuk gerbong bak pemain rugby. Tiket tempat duduk itu seperti kursi VIP di dalam kereta. Kalau menurut estimasi saya, hanya ada sekitar 25-40% tiket tempat duduk dibanding semua tiket yang dijual PT KAI. Sisanya berdiri, lesehan dan gelantungan. Walaupun memperoleh tempat duduk, tetap saja suasana yang amat penat, berdesakan, dan tatapan tajam orang-orang tanpa-tempat-duduk membayangi sepanjang perjalanan. Jangan bayangkan sudah bagaimana orang-orang tanpa-tempat-duduk itu berdiri di sela-sela, di bawah kursi, di kamar mandi, bahkan tidur di pintu kereta. Tak hanya itu, pedagang asongan dan preman-preman kereta (termasuk copet, pengamen, dan pengemis) yang juga punya mata pencaharian terpaksa adu badan hingga menginjak-injak (dalam artian sebenarnya) para penumpang yang tidak kebagian kursi. Semua itu telah menjadi budaya dalam kereta ekonomi dan hampir setiap hari itu terjadi.
Dulu saya kira akan sulit merubah semua kebudayaan buruk tersebut, apalagi konon PT KAI selalu merugi. Namun ternyata semuanya berubah 180 derajat. Berbagai kebijakan baru muncul dan sempat menjadi kontroversi akibat ditentang kalangan pelestari budaya buruk di kereta. Saya acungkan jempol besar ibu saya untuk salah satu kebijakan baru PT KAI, yaitu pembatasan tiket. Semua orang dapat duduk dan semua orang membayar karena kini tiap stasiun sudah online dan terhubung satu sama lain. Hebatnya lagi dengan penggunaan KTP untuk pemesanan, semua calo jadi tak berkutik. Terakhir naik kereta api, saya melihat ada petugas pengamanan di tiap gerbong yang pastinya membuat preman-preman kereta ciut. Pemesanan tiket juga mudah dan makin terjangkau, hingga minimarket samping kos saya juga jual tiket kereta api. Pelayanan PT KAI pada pelanggannya sedikit demi sedikit sudah memenuhi prinsip 6A-nya.
Mungkin satu-satunya kesulitan kini adalah sulitnya mencari tiket mendadak karena kita diharuskan merencanakan kepergian sedari awal ketika pemesanan tiket baru awal dibuka dan belum habis. Diluar itu, seiring dengan perubahan logonya yang makin cerah dan menarik, petugas-petugasnya kini makin rapi, ramah, cantik dan ganteng. Rupanya industri transportasi perkereta-apian yang dimonopoli PT KAI sudah berbenah dan berupaya memberikan pelayanan prima pada masyarakat.
