6.9.11

Drop-out-ers


Sepertiga jalan menju de-tiga seakan mudah saja. Empat cowok yang drop-out dari kelasku di dua semester lalu hanya gertak sambal yang mudah pudar oleh segarnya nilai i-pe-ka yang keluar. Saya benar-benar tidak habis pikir. Dua-puluh persen ketidakhadiran dan nilai D itu hanya seonggok duri kecil yang seharusnya mudah dilompati. Lalu kenapa mereka?? Apa tuhan mengorbankan mereka dalam skenario tragis ini sebagai pelajaran buat saya? Dan mengapa harus empat?

Sedikit cerita, Empat cowok itu keluar dari belenggu dinas ini dengan cara yang berbeda.

Escaper`pertama adalah tipe orang yang mengenal dirinya dan punya cita-cita sedari awal. Ia melakukan daftar ulang gratis di kampus ini hanya sebatas rencana kedua. Rencana utamanya adalah mengenyam pendidikan sarjana di ITB. Begitu pengumuman kampus favoritnya itu mengabarkan berita baik, ia segera berlabuh bangga menuju cita-citanya. Bahkan sebelum genderang kuliah minggu pertama ditabuh di kelas. Sepanjang satu semester pertama, ia hanya meninggalkan sebaris nama asing di atas nama saya dalam buku absen.

Escaper kedua adalah orang yang benar-benar mengerti cara menikmati hidup. Ia benar-benar tidak ambil pusing dengan apa yang dipusingkan oleh dunia gila. Satu-satunya kesalahan dia adalah mengorbankan waktu mudanya untuk datang ke kampus penuh pasal ini. Ia menolak ide-ide kaku yang bisa mengurungnya seumur hidup. Untunglah kampus ini cepat mengamininya, ia sudah keluar di enam bulan pertama. Saya lega dan salut melihatnya masih tertawa ceria setelah kampus mengusirnya.

Escaper ketiga adalah orang yang memiliki intelejensi tinggi. Sebelumnya ia sudah melepas almamater kuning yang konon terkenal itu, hanya untuk masuk kampus ini. Tentunya ia lolos mudah di semester awal dan tidak ada tanda-tanda ia akan pergi. Hingga suatu waktu ia bolos dan sudah melampaui kuota. Jelas tidak mungkin ia buta tentang peraturan vital yang kurang kerjaan memantau kehadiran tiap mahasiswa. Sepertinya ia merencanakan sesuatu di luar nalar konvensional saya. Mungkin tentang masa depan dan mimpi pemuda yang sangat fluktuatif dan kompleks.

Escaper keempat adalah yang paling saya sayangkan. Ia terlihat menyukai tiap mata kuliah, aktif, bahkan kritis. Escaper ini disukai beberapa dosen atas celotehnya yang bermutu pada diskusi.  Ia hanya mendapatkan satu kesialan, yaitu terlambat. Ia baru berubah tiga ratus enam puluh derajat ketika masuk semester dua. Tragis i-pe-ka-nya belum melewati batas aman akibat digelantungi i-pe semester awal yang terlampau kerdil. Entah apa yang merasukinya di semester satu. Setidaknya, ia sudah berhasil merubah dirinya menjadi lebih baik dan itulah yang paling penting.

Saya rasa empat escapers itu memang keluar karena inisiatif atau kesalahan vital yang harusnya mudah dihindari. Semua orang itu hebat dan semuanya memiliki perspektif dan jalan menuju kematiannya kelak yang berbeda-beda. Dua pertiga jalan menju de-tiga seakan mudah saja. Asal masih bisa setidaknya berpura-pura bahwa benang hidup saya terajut di kampus ini, suka atau tidak.